Secara umum, Pupuk Organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik yang didegradasikan secara organik. Sumber bahan baku organik ini dapat diperoleh dari bermacam-macam sumber seperti : kotoran ternak, sampah rumah tangga non sintetis, limbah-limbah pabrik makanan/minuman dll.
Pada umumnya di lapangan, bahan-bahan ini dikenal dengan nama "PUPUK KOMPOS". Maksudnya adalah pupuk yang berasal dari bahan organik yang telah di-dekomposisi (di degradasi). Biasanya untuk membuat pupuk kompos ini, dilibatkan / ditambahkan pula inokulum bakteri yang membantu mempercepat proses pen-degradasian (dekomposisi). Sebetulnya tanpa dibantupun, alam dengan sendirinya akan mendekomposisi bahan-bahan organik tersebut dengan bakteri yang ada di alam, beserta bantuan organisme renik lainnya.
Ada lagi pupuk organik yang tidak terdiri atas bahan-bahan sisa yang didegradasikan lebih lanjut. Tetapi merupakan organisme hidup (tumbuhan tingkat tinggi) yang dapat menghasilkan (mengikat) unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Sebenarnya yang lebih tepat adalah tumbuhan tersebut menjadi inang (tempat hidup) sejumlah bakteri yang mengikat unsur-unsur hara. Sebagai contoh adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) yang mempunyai bintil akar yang menjadi tempat hidup sejumlah bakteria yang dapat mengikat zat nitrogen. Sebagaimana kita ketahui, nitrogen sangat diperlukan tanaman untuk proses pertumbuhan tunasnya. Kita dapat mendapatkan nitrogren ini dari pupuk urea. Pupuk yang seperti ini disebut "PUPUK HIJAU".
Dewasa ini telah banyak beredar pupuk organik dengan berbagai macam bentuk dan kemasan (cair, pril, bubuk). Pupuk organik padat (bukan cair) yang selama ini sudah akrab dengan masyarakat peranian kita adalah kompos. Pupuk kompos ini biasanya dibuat dari kotoran ternak atau sisa sampah (non sintetis seperti plastik) yang telah dikomposkan.
Pada pertanian organik, penggunaan pupuk organik adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Kenapa demikian ?????
Pupuk Organik (umunya adalah kompos), mempunyai tingkat ikatan antar bahan yang sangat buruk jika kita bandingkan misalnya dengan tanah (liat). Gumpalan tanah ( liat murni) yang tidak mengandung humus, sangatlah padat dan mudah sekali mengeras. Padahal dalam proses tumbuhnya, tumbuhan memerlukan tempat berpijak yang kokoh dan gembur. Karena sebenarnyalah bahwa disamping menyerap air dari dalam tanah, akar tanaman juga melakukan proses respirasi (bernapas). Maka dapat anda bayangkan jikalau tanah tempat tumbuh tersebut adalah tanah yang keras dan mempunyai tingkat kepadatan tinggi, sehingga tidak ada celah yang dapat menjadi tempat sirkulasi udara. Walaupun sangat kecil, di dalam tanah-pun terdapat sirkulasi udara (zat-zat berbentuk gas). Dengan diberikannya pupuk kompos di lahan pertanian, maka kemudian kompos ini akan bercampur dengan tanah untuk membentuk lapisan humus. Yaitu lapisan permukaan tanah yang kaya akan bahan organik. Karena tanah tadi bercampur dengan kompos, maka struktur tanah-pun kemudian menjadi tidak bergumpal lagi. Hal ini dikarenakan ikatan struktur tanah telah menjadi gembur karena bercampur dengan kompos. Dalam tanah yang gembur, banyak terdapat celah yang dapat ditembus udara (gas) yang berarti sirkulasi udara di tanah menjadi lancar.
Ada satu hal lagi peran penting PUPUK KOMPOS yang belum begitu disadari oleh banyak orang. Disamping sebagai penggembur tanah, pupuk kompos juga sebagai media tempat hidup sejumlah besar bakteri. Lalu apa hubungannya dengan tanaman ??????
Tanaman pada dasarnya menyerap makanan dari dalam tanah dalam bentuk ion-ion. Sebenarnya di dalam kandungan liat tanah sendiri (juga di dalam bahan organik lain) terdapat banyak unsur makanan (garam-garam mineral) yang diperlukan tanaman. Tetapi unsur makanan tersebut biasanya masih terikat dalam bentuk senyawa kompleks yang tidak dapat diserap langsung oleh tanaman. Senyawa kompleks tersebut harus diurai lagi agar pecah menjadi ion-ion yang dapat diserap oleh tanaman. Banyak bakteri yang hidup di dalam tanah dapat melakukan proses pemecahan senyawa kompleks tersebut dan mengubahnya menjadi (ion-ion) unsur makanan yang tersedia bagi tanaman. Bakteri melakukan proses degradasi atas bahan organik dan bahan asli alam (seperti batu-batuan mineral) dalam proses hidupnya yang kalau kita analogikan pada manusia adalah proses makan. Ketika bahan organik dan bahan asli alam dimakan oleh bakteri, struktur senyawa kompleksnya pecah menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana atau dalam bentuk senyawa-senyawa ion yang dapat diserap oleh tanaman. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yang dihasilkan oleh bakteri adalah enzim-enzim sebagai hasil sekresi bakteri- bakteri tersebut. Banyak enzim yang diperlukan dalam proses metabolisme tumbuhan yang bisa diperoleh dari hasil sekresi bakteri tersebut. Juga banyak penyakit tanaman yang bisa ditekan karena keberadaan bakteri (enzimnya) di dalam tanah ini. Sebenarnya masih ada lagi peran mikro fauna (binatang-binatang yang sangat kecil) yang juga berperan aktif dalam lingkaran pembahasan ini tetapi tidak saya bahas karena nanti artikel ini menjadi terlalu panjang. Jadi pada dasarnya, di lahan pertanian, disamping harus ada tanah tempat tumbuhan menancapkan akarnya, diperlukan juga koloni kehidupan mikro organisme di dalam tanah.
YANG MENJADI MASALAH SAAT INI
Saat ini jika kita berbicara tentang pupuk organik maka asosiasi kita akan menuju pada pupuk kandang atau pupuk kompos (padahal masih banyak pupuk organik lain selain kompos). Tapi itu tidak mengapa. Marilah kita arahkan perhatian kita kepada masalah pupuk kandang ini. Apa sih sebenarnya yang menjadikan kendala, sehingga petani kita tidak mau lagi menggunakan pupuk kandang ????
Hal paling utama yang menjadi keengganan petani menggunakan pupuk kompos adalah masalah jumlahnya. Akan diperlukan jumlah pupuk kandang yang cukup banyak untuk mendapatkan nilai nutrisi yang mencukupi suatu luasan tertentu lahan pertanian. Sebagai contoh, petani sayur-mayur di daerah Samarang (Garut - Jawa Barat) dan Jalaksana (Kuningan - Jawa Barat), membutuhkan pupuk kandang sejumlah 5 sampai 7 truk Fuso ukuran 3/4 (kira-kira total volumenya 20 sampai 25 Ton) per hektarnya untuk satu kali musim tanam (kira-kira 3 bulan). Dan ini akan diperlukan lagi sejumlah volume itu pada musim tanam selanjutnya. Suatu volume yang cukup besar.
Kendala yang kemudian timbul adalah mengenai penyediaan bahannya, jumlah tenaga kerja yang menangani proses pemupukan, transportasi pupuk tersebut dari kandang (atau tempat pengepulan) sampai ke lahan pertanian dan timbulnya gulma pada lahan pertanian yang diakibatkan oleh terbawanya biji-bijian di dalam pupuk kandang tersebut. Hal ini menyebabkan biaya perawatan tanaman menjadi mahal yang ujung-ujungnya akan meningkatkan biaya produksi pertanian.
Besarnya volume pupuk kandang yang dibutuhkan untuk memupuk, dikarenakan jumlah nutrisi yang terkandung di dalamnya (garam-garam mineral) terhitung kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan tanaman.
Sebenarnya dengan kemajuan teknologi pertanian dan bio teknologi, sekarang ini sudah bisa dibuat pupuk kandang yang efisien. Dengan proses fermentasi dan pengayaan unsur-unsur hara, efisiensi pupuk kandang dapat ditingkatkan. Dan sebagai hasilnya, penggunaannya tidak lagi harus dalam volume yang cukup besar. Dan yang lebih mengembirakan lagi, harga pupuk tersebut dapat ditekan pada tingkat harga yang terjangkau oleh petani. Pupuk tersebut dapat diaplikasikan dengan dosis yang setara dengan pupuk kimia, dengan kelebihan-kelebihan pupuk organik yang tidak dapat diperoleh kalau menggunakan pupuk kimia. Sekarang ini sudah mulai beredar pupuk-pupuk organik (buatan Indonesia) yang harga dan dosis penggunaannya setara dengan pupuk kima. Sebagai ilustrasi, telah dicobakan di daerah Jalaksana (Kuningan - Jawa Barat) untuk luasan 100 bata (kurang lebih 1.400 meter persegi) hanya dibutuhkan pupuk (berbentuk pril) sejumlah 150 Kg, tanpa mengunakan pupuk lainnya (pupuk kandang dan pupuk kimia) yang biasanya digunakan oleh petani setempat.
Pada dasarnya penggunaan pupuk organik adalah suatu solusi tepat untuk mengatasi kejenuhan tanah atas pupuk kimia yang kini sudah mulai dikeluhkan oleh banyak petani.
Sabtu, 03 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar