welocome to my blog

banyak informasi yang akan anda dapatkan di blog saya

Laman

Sabtu, 03 April 2010

eh sawit lagi????

Di era globalisasi ini dunia pertanian makin menunjukkan taringnya dan selalu mengembangkan inovasi baru untuk menaikkan pendapatan masyarakat maupun Negara. Pertanian zaman sekarang sudah menngunakan beberapa alat modern untuk membantu para petani dalam pengolahan lahan ataupun lahan.
Para petani pada era lama tidak bisa mengolah lahan jika lahan yang akan digarap sangatlah besar luasnya, di era sekarang dengan bantuan adanya mesin – mesin yang mempercepat para petani dalam mengelola semua kegiatan pertanian baik dalam sekala besar maupun kecil sudah bisa dibilang mudah dalam penggarapannya.
Dari uraian – uaraian yang saya tulis diatas, kita tahu bahwa hidup di bumi ini tidak akan lepas dari apa yang namanya energi, khususnya para petani era sekarang sangatlah tergantung dengan adanya energi. Energi yang saya tekankan dalam uraian kali ini adalah energi yang tidak dapat di perbarui seperti gas,minyak bumi dan lain – lain.

Dari berkembangnya zaman para peneliti tidak henti – hentinya berpikir bagaimana caranya membuat energi alternatif yang nantinya masyarakat banyak tidak tergantung dengan energi yang tidak dapat diperbarui kembali. Kecocokan iklim, unsur tanah, unsur air di Indonesia sangat membantu dalam memperkembangkan energi alternatif berupa kelapa sawit.
Dari uraian diatas saya sangat tertarik untuk mengupas permasalahan bagaimana energi yang dapat diperbarui ini ( Tanaman Kelapa Sawit) dapat tersalurkan dengan baik dan dapat meningkatkan perekonimian rakyat indonesia khususnya.
kali ini saya akan memperkenalkan apa itu tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan menempati posisi pertama.
Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Saya akan memberikan sedikit ciri tanaman kelapa sawit, Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Mengapa tanaman kelapa sawit ini dikategorikan sebagai energi alterenatif pengganti bahan bakar seperti minyak bumi. Energi dari bahan tambang seperti minyak bumi dan gas bumi diperkirakan akan habis dalam waktu yang relatif singkat. Mau tidak mau Indonesia harus segera mencari sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable energi) untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. Salah satu sumber energi terbarukan yang belum banyak dimanfaatkan adalah energi dari biomassa.
Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menghitung potensi energi dari biomassa yang besarnya mencapai 50.000 MW, namun yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 302 MW. Salah satu biomassa yang jumlahnya sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan adalah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang jumlahnya mencapai ribuan ton.
Limbah pabrik kelapa sawit sangat melimpah. Saat ini diperkirakan jumlah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton limbah padat (TKKS)/tahun. Dari limbah tersebut dapat dihasilkan kurang lebih 90 juta m3 biogas. Jumlah ini setara dengan 187,5 milyar ton gas Elpiji. Jumlah biogas ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama satu tahun.
Biogas yang komponen utamanya gas metan (CH4) sebenarnya sudah mulai manfaatkan sejak beberapa puluh tahun yang lalu, namun tidak banyak dipergunakan masyarakat. Biogas yang dikenal masyarakat lebih banyak dihasilkan dari pengolahan kotoran ternak atau kotoran manusia. Sebenarnya biogas juga bisa dihasilkan dari biomassa yang lain.
Biogas lebih ramah lingkungan daripada BBM. Pembakaran biogas (metan) akan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Kedua gas ini sama seperti gas yang dikeluarkan dari hidung manusia. Bandingkan dengan BBM yang banyak menyebabkan polusi udara.
Satu m3 gas metan dapat diubah menjadi energi sebesar 4700 – 6000 kkal atau 20 – 24 MJ. Energi sebesar itu setera dengan energi yang dihasilkan oleh 0,48 kg gas Elpiji (LPG). Penggunaan gas metan tidak hanya menghasilkan energi yang besar tetapi juga lebih ramah lingkungan.
Dan mengapa tanaman kelapa sawit ini bisa meningkatkan sektor ekonomi rakyat Indonesia. Salah satu seorang Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap MS mengatakan bahwa Dilihat dari potensi luas lahan yang tersedia di Indonesia yang sesuai untuk program ekstensifikasi atau perluasan areal perkebunan kelapa sawit, Indonesia dinilai berpotensi memperluas areal kelapa sawitnya sampai lima kali lipat dari luas areal yang telah ada saat ini.
Sementara itu, Malaysia sebagai pesaing Indonesia dalam memproduksi CPO tidak memiliki potensi areal perluasan lagi. Dengan demikian potensi Indonesia sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia peluangnya sangat besar.
Ia mengatakan, isu strategis tentang biodesel/biofuel yang salah satu bahan dasarnya dapat dibuat CPO membuat tanaman ini menjadi primadona agrobisnis/agroindustri. Pada akhirnya harga jual CPO sangat tergantung kepada harga minyak bumi, semakin tinggi dan langka minyak bumi maka harga CPO juga akan meningkat akibat dari kemampuannya menjadi substitusi minyak diesel yang dapat diperbaharui, ujarnya.
Ia menjelaskan, potensi yang besar untuk mengembangkan kebun kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatera (Riau, Jambi dan Sumatera Selatan), Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur), Papua dan provinsi lain yang potensinya di bawah satu juta hektare.
Potensi lahan yang sesuai untuk komoditi kelapa sawit di Indonesia menurut dia, tidak kurang dari 31 juta hektare, sementara yang dimanfaatkan sampai kini baru 5,447 juta hektare. Dengan demikian potensi perluasan areal bisa hingga lima kali lipat lebih.
Apabila 10 juta hektare dapat dibagikan kepada rakyat miskin dimana setiap kepala keluarga memperoleh lahan kebun kelapa sawit seluas dua hektar, maka dipastikan dapat mengentaskan kemiskinan sebanyak lima juta kepala keluarga atau sekitar 20 juta rakyat, ujarnya.
Ia mengemukakan, melihat potensi lahan yang dapat dikembangkan menjadi kebun kelapa sawit jelas kelihatan bahwa untuk program revitalisasi pertanian pengembangan kelapa sawit sangat mendukung, terutama untuk wilayah Indonesia Tengah dan Barat yang secara tidak langsung akan mempercepat pertumbuhan ekonomi regional daerah tersebut.
Kegiatan ini akan berdampak pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan regional, peningkatan kesejahteraan rakyat pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perkapita Negara.
Tentunya dari perkembangan kelapa sawit sekarang ini sangat diharapkan bagi semua kalangan, dan harapannya bahwa perkembangan kelapa sawit ini tidak merusak ekosistem yang ada disekitarnya, dan kita sebagai civitas akademika mahasiswa pertanian harus bisa mengerti bagaimana cara mengatur penanaman kelapa sawit dengan terus belajar secara sungguh - sungguh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar